Kesehatan

Selasa, 17 Desember 2019

IURAN BPJS KESEHATAN NAIK, OBAT DEVISIT YANG PICU MASALAH BARU
Mulai 1 Januari 2020, iuran BPJS Kesehatan naik hingga lebih dari dua kali lipat. Kenaikan ini disinyalir sebagai akibat kinerja keuangan BPJS Kesehatan yang terus merugi sejak lembaga ini berdiri pada 2014. Oleh karena itu, diperlukan stimulus agar lembaga tersebut dapat tetap berjalan melayani masyarakat yang membutuhkan fasilitas kesehatan. Namun, di sisi lain, kenaikan premi BPJS Kesehatan juga bisa menimbulkan persoalan lainnya. Kenaikan premi BPJS Kesehatan ini diatur di dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan yang ditandatangani pada 24 Oktober 2019. Dalam Pasal 34 beleid tersebut diatur bahwa kenaikan iuran terjadi terhadap seluruh segmen peserta mandiri kategori pekerja bukan penerima upah (PBPU) dan bukan pekerja (BP). Adapun besaran iuran yang harus dibayarkan yaitu Rp 160.000 untuk kelas I dari sebelumnya Rp 80.000, sedangkan pemegang premi kelas 2 harus membayar Rp 110.000 dari sebelumnya Rp 51.000. Sementara itu, kelas 3 sedikit lebih beruntung karena kenaikan yang dialami lebih kecil, yakni dari Rp 25.500 menjadi Rp 42.000. Tahun ini, BPJS Kesehatan diprediksi akan mengalami defisit hingga Rp 32,8 triliun. "Jangan ragu iuran naik, defisit tak tertangani. Ini sudah dihitung hati-hati oleh para ahli," kata Iqbal di Jakarta, Sabtu (2/11/2019). Namun, bukan kali ini saja defisit terjadi. Bahkan, sejak lembaga itu berdiri sudah mengalami defisit hingga Rp 3,3 triliun. Defisit berlanjut pada 2015 menjadi Rp 5,7 triliun dan semakin membengkak menjadi Rp 9,7 triliun pada 2016. Sementara pada 2017, defisit hanya sedikit mengalami kenaikan yakni menjadi Rp 9,75 triliun. Adapun pada 2018, defisit yang dialami mengalami penurunan menjadi Rp 9,1 triliun. Iqbal mengatakan, persoalan defisit ini tidak akan selesai pada tahun ini. Kendati demikian, ia optimistis masalah keuangan itu bisa selesai pada tahun depan. Bahkan, diproyeksikan keuangan BPJS Kesehatan bisa surplus hingga Rp 17,3 triliun. "Di 2020 diperkirakan (keuangan BPJS Kesehatan) surplus. Tentu hal itu bisa terjadi dibarengi dengan perbaikan," ucap dia. Sementara itu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin menilai, kenaikan iuran ini sebenarnya merupakan cara pemerintah untuk berkolaborasi dengan masyarakat dalam memberikan pelayanan kesehatan yang prima. Dengan kenaikan ini, masyarakat yang sehat dan memiliki kemampuan lebih, dapat membantu masyarakat yang sakit dan yang lebih membutuhkan. "Sebab kala orang iuran BPJS itu kan untuk dirinya sendiri. Yang tidak miskin itu untuk dirinya sendiri. Andai kata dirinya tidak memerlukan, sehat terus, juga untuk menolong orang lain. Artinya BPJS itu bentuk layanan sosial baik dari pemerintah maupun masyarakat," kata Ma'ruf di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (1/11/2019). Tak ada jaminan pelayanan meningkat Warga berjalan di lobi kantor Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Jakarta Timur, di Jakarta, Rabu (30/10/2019). Presiden Joko Widodo resmi menaikan iuran BPJS Kesehatan sebesar 100 persen yang akan berlaku mulai 1 Januari 2020 bagi Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) dan peserta bukan pekerja menjadi sebesar Rp42 ribu per bulan untuk kelas III, Rp110 ribu per bulan untuk kelas II dan Rp160 ribu per bulan untuk kelas I. Presiden Joko Widodo resmi menaikan iuran BPJS Kesehatan sebesar 100 persen yang akan berlaku mulai 1 Januari 2020 bagi Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) dan peserta bukan pekerja menjadi sebesar Rp42 ribu per bulan untuk kelas III, Rp110 ribu per bulan untuk kelas II dan Rp160 ribu per bulan untuk kelas I. Sejatinya, kenaikan sebuah iuran dibarengi dengan peningkatan pelayanan kepada mereka yang membayarnya. Hal itu pula yang ditekankan Wakil Ketua Komisi IX Nihayatul Wafiroh. Menurut dia, selama ini masyarakat kerap mengeluhkan pelayanan yang diberikan rumah sakit kepada pasien BPJS Kesehatan. "Jangan sampai kenaikan BPJS ini hanya sekadar naik secara jumlah iurannya, tapi pelayanannya tidak berubah," kata Nihayatul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (30/10/2019). Politisi PKB ini mengaku tak sepakat dengankenaikan ini. Sebab, ia khawatir ini hanya menjadi dalih pemerintah untuk menutupi defisit anggaran BPJS Kesehatan. "Kita tidak mau kalau hanya naik untuk menutupi kekurangan, tapi tidak ada kenaikan dalam hal pelayanan," ucap dia. Baca juga: Iuran BPJS Kesehatan Naik, IDI: Belum Tentu Pelayanan Naik Di lain pihak, Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi menduga, kenaikan ini tak lebih dari sekadar 'gali lubang, tutup lubang'. Artinya, risiko terjadinya defisit anggaran masih sangat mungkin terjadi kembali pada kemudian hari. "Yang kita takutkan iurannya akan menutup defisit saja, tapi memang perlu negara langsung mengatasi terkait masalah defisit ini," kata Adib dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (2/11/2019). Ia juga ragu bahwa kenaikan ini akan diikuti dengan peningkatan pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit. Sebab, keputusan pemerintah menaikkan iuran ini tak lebih didasarkan pada persoalan menutupi defisit semata. "Saya masih belum bisa mengatakan bahwa kenaikan iuran akan berdampak pada kualitas pelayanan baik karena konsepnya hanya berbicara konsep mengatasi defisit saja," ujar dia. Meski demikian, ia sepakat bahwa persoalan defisit ini harus segera ditangani. Apalagi, banyak tenaga medis yang belum menerima bayaran akibat tunggakan pembayaran premi. Keterlambatan itu pulalah yang pada akhirnya turut menjadi faktor kurang maksimalnya pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien yang membutuhkan. "Problem di dalam kesehatan sekarang dalam sistem pelayanan kondisinya adalah emergency in health care, indanger in health care," ucap dia. Di lain pihak, alih-alih mengatasi persoalan defisit keuangan, kenaikan iuran BPJS Kesehatan juga berpotensi menimbulkan persoalan baru di lapangan. Koordinator BPJS Watch Indra Munaswar mengatakan, kenaikan ini bisa semakin menekan masyarakat yang tidak mampu dalam membayar premi. Ia mengaku, BPJS Watch telah menerima aduan masyarakat dari berbagai daerah yang merasa khawatir dengan naiknya iuran ini. Kekhawatiran ini terutama dirasakan oleh mereka yang tidak terdaftar sebagai peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI). "Kan banyak yang tidak mampu tapi tidak semua ter-cover kan oleh APBD, tidak semua ter-cover oleh APBN sebagai PBI. Nah kalau sudah begitu bagaimana? Padahal dia sakit," kata Indra. Baca juga: Kenaikan Iuran BPJS Dinilai Akan Bebani Peserta Mandiri Kategori Kurang Mampu Hal senada disampaikan Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi. Menurut dia, ada dua fenomena yang mungkin akan muncul pascakenaikan iuran ini. Pertama, masifnya masyarakat menurunkan kelas mereka karena merasa tidak mampu membayar premi yang dibebankan. "Misalnya dari kelas satu turun ke kelas dua dan seterusnya," kata Tulus dalam keterangan tertulis, Rabu (30/10/2019). Fenomena kedua yaitu munculnya tunggakan yang lebih besar, khususnya dari golongan mandiri yang saat ini tunggakannya telah mencapai 46 persen. "Jika kedua fenomena itu menguat, maka bisa menggegoroti finansial BPJS Kesehatan secara keseluruhan," ucap dia. anggota Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Perssi) Hermawan Saputra mengkhawatirkan, masifnya migrasi kelas para peserta jaminan kesehatan ini dikhawatirkan menyebabkan rumah sakit semakin kewalahan dalam menangani pasien, sehingga memunculkan persoalan lain. Sebab, para peserta BPJS Kesehatan diduga akan memilih turun ke kelas 3 yang sebetulnya sudah penuh diisi oleh peserta BPJS Kesehatan yang bertatus penerima bantuan iuran. Padahal, sudah sering ditemui pula kasus-kasus di mana rumah sakit terpaksa menolak pasien lantaran daya tampung sudah penuh. "Ini kekhawatiran ya, kekhawatiran kami akan makin banyak yang tidak tertangani," ujar Hermawan. Cleansing Suasana pelayanan di kantor BPJS Ungaran. Masyarakat memertimbangkan turun kelas agar tetap jadi anggota BPJS. Suasana pelayanan di kantor BPJS Ungaran. Masyarakat memertimbangkan turun kelas agar tetap jadi anggota BPJS. Memberikan pelayanan kesehatan yang baik sudah menjadi tanggung jawab pemerintah kepada masyarakat. Bahkan, di dalam Tap MPR X Tahun 2001, ada amanat yang mewajibkan pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar 15 persen di dalam postur APBN. Untuk mengatasi beban pemerintah yang terlalu besar, Tulus menyarankan agar pemerintah dan manajemen BPJS melakukan langkah langkah strategis, seperti melakukan cleansing data golongan Penerima Bantuan Iuran (PBI). Hal ini untuk menyisir para peserta PBI yang salah sasaran, sehingga bantuan yang diberikan dapat lebih dioptimalkan untuk mereka yang tidak mampu. "Di lapangan, banyak anggota PBI yang diikutkan karena dekat dengan pengurus RT/RW setempat. Jika cleansing data dilakukan secara efektif, maka peserta golongan mandiri kelas III langsung bisa dimasukkan menjadi peserta PBI. Dari sisi status sosial ekonomi golongan mandiri kelas III sangat rentan terhadap kebijakan kenaikan iuran," ucap dia.

Selasa, 12 November 2019

SIKAT GIGI


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang, agar terwujud derajat kesehatan yang lebih tinggi. Hal ini dapat dilakukan melalui pendekatan peningkatan pengetahuan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan.
Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kebersihan gigi dan mulut anak. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh secara alami maupun secara terencana yaitu melalui proses pendidikan. Orang tua dengan pengetahuan rendah mengenai kebersihan gigi dan mulut merupakan faktor predisposisi dari perilaku yang tidak mendukung kebersihan gigi dan mulut anak.
Banyak orang tua yang mengeluhkan bahwa perawatan gigi anak, sulit dan memerlukan banyak waktu. Keluhan  ini dapat di mengerti bahwa banyak orang tua yang belum sadar betul akan perlunya perawatan gigi anak. Umumnya orangtua beranggapan bahwa gigi anak-anak tidak perlu dirawat karna akan diganti dengan gigi dewasa . Peran orang tua juga sangat penting untuk menjaga kesehatan anak-anaknya, apalagi untuk urusan kesehatan gigi. Perilaku dan kebiasaan ibu dapat dicontoh oleh anak. Pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi akan sangat menentukan status kesehatan gigi anaknya kelak.
Gigi bagi seorang anak penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri. Fungsi gigi sangat diperlukan dalam masa kanak-kanak yaitu sebagai alat pengunyah, membantu dalam berbicara, keseimbangan wajah, penunjang estetika wajah anak dan khususnya gigi sulung berguna sebagai panduan pertumbuhan gigi permanen. Anak usia prasekolah adalah anak yang berusia antara 2 sampai 6 tahun dimana pada masa ini anak telah mencapai kematangan dalam berbagai macam fungsi motorik dan diikuti dengan perkembangan Intelektual dan sosio emosional.  Anak usia dini biasa mengikuti program prasekolah.
Karies gigi merupakan penyakit yang sangat luas dijumpai diseluruh dunia pada zaman sekarang, walaupun penularan penyakit ini dari satu orang ke orang lain tidak dijumpai. Karies gigi sudah dapat terjadi pada anak-anak usia 3-4 tahun.
Masalah kesehatan gigi di Indonesia dapat dikatakan cukup tinggi.  Prevalensi karies di Indonesia mencapai 90% dari populasi anak balita. Menurut laporan penelitian oleh pengendalian dan pencegahan penyakit pada tahun 2007 menunjukkan bahwa karies gigi telah meningkat khususnya pada anak usia balita dan anak prasekolah, yaitu dari 24% menjadi 28% dimana pada anak usia 2-5 tahun meningkat menjadi 70% dari karies yang ditemukan. Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 masalah kesehatan gigi dan mulut mencapai presentasi sebesar 25,9%.
Praktek kebersihan  mulut oleh individu merupakan tindakan pencegahan yang paling utama dianjurkan, juga berarti individu tadi telah melakukan tindakan pencegahan yang  sesungguhnya, praktek  kebersihan  mulut  ini dapat dilakukan individu dengan cara menggosok gigi.  Menggosok  gigi berfungsi  untuk menghilangkan dan mengganggu  pembentukan plak dan debris, membersihkan sisa makanan yang menempel pada gigi, menstimulasi jaringan gingiva, menghilangkan bau mulut yang tidak diinginkan. (Depkes RI, 2004)
Perilaku  menggosok  gigi  pada  anak  harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari tanpa ada perasaan terpaksa. Kemampuan menggosok gigi secara baik dan benar merupakan faktor yang cukup penting untuk perawatan kesehatan gigi dan mulut. Keberhasilan menggosok gigi juga dipengaruhi oleh faktor penggunaan alat, metode menggosok gigi, serta frekuensi dan waktu menggosok gigi yang tepat.(Houwink, 1994)
Teknik  menyikat  gigi  yang  tepat sangat penting dalam mencapai kebersihan gigi dan mulut. Banyak anak yang tidak diberi pengetahuan tentang cara menyikat gigi. Keberhasilannya juga masih tergantung pada pasta gigi, jenis sikat, waktu menyikat, dan metode menyikat gigi yang digunakan. Metode menyikat gigi manual termasuk Bass, Stillman, Fones, Charter, horizontal, vertikal, Scrub, dan Roll telah diajarkan selama beberapa decade
Metode Audio Visual merupakan alat peraga yang bersifat dapat didengar dan dapat dilihat yang dapat membantu siswa dalam belajar mengajar yang berfungsi memperjelas  atau  mempermudah dalam memahami bahasa yang sedang dipelajari. Hal ini sejalan dengan penelitian Ika dan Iwan pada tahun (2014) dengan judul penelitian pengaruh media audio visual (Video) terhadap hasil belajar siswa, yang mengatakan bahwa menggunakan metode Audio visual lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan metode konvensional.
·               Tujuan
Untuk  mengetahui tingkat keterampilan  menggosok gigi pada anak sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan melalui metode audiovisual dan simulasi.






CARIES


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kesehatan gigi merupakan suatu masalah kesehatan yang memerlukan penanganan secara komprehensif, karena masalah gigi berdimensi luas serta mempunyai dampak luas yang meliputi: faktor fisik, mental maupun sosial bagi individu yang menderita penyakit gigi. Gigi merupakan bagian dari alat pengunyahan pada sistem pencernaan dalam tubuh manusia. Masalah utama kesehatan gigi dan mulut pada anak ialah karies gigi. (Worotitjan, Mintjelungan, Gunawan, 2013:60).
Karies gigi adalah penyakit jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan jaringan, dimulai dari permukaan gigi mulai dari email, dentin, dan meluas ke arah pulpa. Karies dikarenakan berbagai sebab, diantaranya adalah karbohidrat, mikroorganisme dan air ludah, permukaan dan bentuk gigi, serta dua bakteri yang paling umum bertanggung jawab untuk gigi berlubang adalah Streptococcus mutans dan Lactobacillus. Jika dibiarkan tidak diobati, penyakit dapat menyebabkan rasa sakit, kehilangan gigi, dan infeksi. (Tarigan, 2013:1).
Pada anak sekolah, karies gigi merupakan masalah yang penting karena tidak saja menyebabkan keluhan rasa sakit, tetapi juga menyebarkan infeksi ke bagian tubuh lainnya sehingga mengakibatkan menurunnya produktivitas. Kondisi ini tentu akan mengurangi frekuensi kehadiran anak ke sekolah, mengganggu konsentrasi belajar, mempengaruhi nafsu makan dan asupan makanan sehingga dapat memengaruhi status gizi dan pada akhirnya dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan fisik. Umumnya anak- anak memasuki usia sekolah mempunyai risiko karies yang tinggi karena pada usia sekolah ini anak-anak biasanya suka jajan makanan dan minuman sesuai keinginannya. (Worotitjan, Mintjelungan, Gunawan, 2013: 60).
Pada usia 6-12 tahun diperlukan perawatan lebih intensive karena pada usia tersebut terjadi pergantian gigi dan tumbuhnya gigi baru. Pada usia 12 tahun semua gigi primer telah tanggal dan mayoritas gigi permanen telah tumbuh. Anak memasuki usia sekolah mempunyai risiko mengalami karies makin tinggi. Banyaknya jajanan di sekolah, dengan jenis makanan dan minuman yang manis, sehingga mengancam kesehatan gigi anak. Ibu perlu mengawasi pola jajan anak di sekolah. Jika memungkinkan, anak tidak dibiasakan untuk jajan di sekolah sama sekali. (Worotitjan, Mintjelungan, Gunawan, 2013: 60).
Pada anak Sekolah Dasar, secara umum anak yang mengalami karies gigi mulai dari umur 6-12 tahun, namun dari hasil berbagai banyak penelitian yang mengalami karies gigi diantaranya anak berusia di bawah 12 tahun, salah satunya ialah anak berusia 10 tahun. Pemilihan anak 10 tahun karena sebelumnya perlu diketahui bahwa terjadinya karies tidak berlangsung dalam hitungan detik, melainkan dalam hitungan bulan ataupun tahun. Dimana karies terjadi melewati beberapa tahap dan dipengaruhi oleh beberapa faktor di dalamnya dan melewati beberapa proses dengan adanya proses demineralisasi dan remineralisasi pada gigi.
Anak prasekolah mengalami proses pembentukan karies karena kurangnya perhatian terhadap makanan sehari–hari dan menyikat gigi. Dan pada umur 3- 6 tahun berdasarkan tahap tumbuh kembang, anak tersebut mulai melakukan sesuatu berdasarkan keinginanya salah satunya mulai mencoba berbagai rasa makanan dalam bentuk apapun sehingga dapat memberikan dampak buruk bagi gigi apabila anak tersebut tidak memerhatikan solusi pencegahan timbulnya karies.
Anak yang memiliki pola makan buruk pada tahun 3-6 tahun bisa saja menimbulkan terjadinya karies pada umur 10 tahun, karena kebiasaan buruk yang dilakukan tersebut sebelum tanggalnya keseluruhan gigi primer (susu) pada anak umur 10 tahun. Dapat diketahui mulai tanggalnya gigi pada anak pada usia 6-8 tahun, dan tumbuhnya gigi permanen pada usia 12 tahun. Dari adanya hal tersebut dapat ditarik kesimpulan ingin mengetahui anak umur 10 tahun dapat mengalami karies sebelum terjadinya penanggalan keseluruhan gigi susu dan tumbuhnya gigi susu di umur 5-6 tahun pada rahang bawah dan umur 7-8 tahun pada rahang atas, mengalami “karies atau tidak”.
Menurut WHO (2003), bahwa 90% dari anak-anak usia sekolah di seluruh dunia dan sebagian besar orang dewasa pernah menderita karies. Menurut penelitian negara-negara Eropa, Amerika, dan Asia, termasuk Indonesia, ternyata 80- 95% dari anak- anak dibawah umur 18 tahun terserang karies gigi. (Yohandri, 2012 dalam Tamrin, Afrida, Jamaluddin, 2014, p. 14).
Umumnya penderita gigi berlubang tersebut adalah anak-anak sesuai data Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI). Pada tahun 2007, penderita gigi berlubang di Indonesia mencapai 72,1 %. Dari persentase ini, hanya satu persen yang berhasil ditambal. Survei Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2010 menunjukkan prevalensi penduduk Indonesia yang menderita karies gigi sebesar 80% – 90% dimana diantaranya adalah golongan anak. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 sebesar 30% penduduk Indonesia mempunyai masalah gigi dan mulut. Dilihat dari kelompok umur, golongan umur muda lebih banyak menderita karies gigi dibanding umur 45 tahun keatas umur 10-24 tahun karies giginya adalah 66,8-69,5% umur 45 tahun keatas 53,3% dan umur 65 tahun keatas sebesar 43,8% keadaan ini menunjukkan karies gigi banyak terjadi pada golongan usia produktif. (Kartikasari, Nuryanto, 2014: 415).
Di Puskesmas Sikapak Pariaman Utara menunjukkan prevalensi karies sebesar 37,6% dan yang mempunyai pengalaman karies sebesar 58,1%. Jenis perawatan yang paling banyak diterima penduduk yang mengalami masalah gigi-mulut, yaitu ‘pengobatan’ (83,6%), disusul penambalan, pencabutan, dan bedah gigi (46,8%). Konseling perawatan, kebersihan gigi dan pemasangan gigi tiruan lepasan atau gigi tiruan cekat relatif kecil, masing-masing 10,7% dan 4,8%.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut yang diuraikan di atas maka penulis tertarik mengangkat tentang, Faktor Yang Berhubungan Dengan Timbulnya Karies Gigi di Puskesmas Sikapak Pariaman Utara.
B.     Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan timbulnya karies gigi pada wilayah kerja Puskesmas Sikapak, Pariaman Utara.
Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui hubungan pola makan dengan timbulnya karies gigi pada wilayah kerja Puskesmas Sikapak, Pariaman Utara.
b.      Untuk mengetahui hubungan kebiasaan menyikat gigi dengan timbulnya karies gigi pada wilayah kerja Puskesmas Sikapak, Pariaman Utara.  
c.       Untuk mengetahui hubungan produksi saliva dengan timbulnya karies gigi pada wilayah kerja Puskesmas Sikapak, Pariaman Utara.
C.    Manfaat
Sebagai proses pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan dalam melakukan kajian ilmiah dibidang keperawatan serta syarat untuk menyelesaikan studi. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah wawasan ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat bagi dunia keperawatan dalam kesehatan khususnya mahasiswa (i) Poltekkes Kemenekes Semarang. Sebagai bahan referensi untuk lebih meneliti dalam melakukan tindakan keperawatan terhadap anak yang menderita karies gigi. Memberikan sumbangsih pengetahuan di bidang keperawatan gigi dalam rangka pengembangan dan kemandirian profesi keperawatan gigi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Gigi
Gigi adalah jaringan tubuh yang sangat keras dibanding yang lainnya. Strukturnya berlapis-lapis mulai dari email yang keras, dentin (tulang gigi) di dalamnya, pulpa yang berisi pembuluh darah, pembuluh saraf, dan bagian lain yang memperkokoh gigi. Namun demikian, gigi merupakan jaringan tubuh yang mudah sekali mengalami kerusakan. Gigi merupakan bagian dari alat pengunyahan pada sistem pencernaan dalam tubuh manusia. (Irma, Intan, 2013: 10).
Manusia mempunyai 2 macam gigi dalam hidupnya yaitu gigi susu (gigi primer) dan gigi tetap (gigi permanen). Gigi susu yaitu gigi yang tumbuh mulai usia 6 bulan yang jumlahnya 20 buah. Sedangkan gigi permanen (sekunder) yaitu gigi yang berangsur–angsur tanggal, berjumlah 32 buah yang terjadi muncul usia 6 tahun sampai 14 tahun. Gigi terakhir (molar 3) akan bererupsi pada masa usia 17 sampai 21 tahun. (Isro’in, Andarmoyo, 2012: 33).
Adapun macam – macam gigi antara lain:
·         Gigi Seri (Incisivus)
Gigi ini letaknya berada di depan, bentuknya seperti pahat dan berfungsi untuk memotong makanan (mastikasi) dan mengiris makanan. Jumlahnya ada 8, dengan pembagian 4 berada di rahang atas dan 4 berada di rahang bawah. Gigi seri susu mulai tumbuh pada bayi usia 4–6 bulan, kemudian diganti dengan gigi seri permanen pada usia 5–6 tahun pada rahang bawah dan pada usia 7–8 tahun pada rahang atas.

·         Gigi Taring (Caninus)
Posisi gigi ini terletak pada sudut mulut, bentuknya runcing di sebelah gigi seri, dan merupakan gigi yang paling panjang dalam rongga mulut. Fungsinya adalah untuk mengiris makanan. Jumlahnya ada 4, dengan pembagian 2 ditiap rahang, 1 di kiri dan 1 di kanan. Gigi susu caninus ini diganti dengan gigi caninus permanen pada usia 11–13 tahun.
·         Gigi Geraham Kecil (Premolar)
Gigi ini jumlahnya 8, dengan pembagian 4 ditiap rahang, 2 di kiri dan 2 di kanan. Gigi ini hanya ada pada gigi dewasa, dan letaknya berada di belakang caninus. Tumbuh pada usia 10–11 tahun dan menggantikan posisi dari gigi molar susu. Bersama gigi molar, gigi ini berfungsi untuk melumatkan makanan.
·         Gigi Geraham (Molar)
Gigi molar susu berjumlah 8 seperti gigi premolar, kemudian lepas pada usia 10–11 tahun dan digantikan oleh gigi premolar. Sedangkan gigi molar permanen tumbuh di belakang gigi premolar setelah gigi molar susu lepas dan digantikan oleh gigi premolar. Jumlah dari gigi molar permanen adalah 12, dengan pembagian 6 di tiap rahang, 3 di tiap sisi kanan dan kiri.

B.     Karies
Karies dalam bahasa Indonesia, sebenarnya bukan istilah untuk lubang gigi. Dalam sebuah situs kedokteran gigi dijelaskan bahwa “Karies adalah istilah untuk penyakit infeksi”, dimana karies yang terjadi pada gigi disebut karies gigi. (Mumpuni, Pratiwi, 2013:6).
Karies   gigi   adalah   suatu   proses   penghancuran   setempat   jaringan kalsifikasi  yang  dimulai  pada  bagian  permukaan  gigi  melalui  proses dekalsifikasi  lapisan  email  gigi  yang  diikuti  oleh lisis  struktur  organik secara   enzimatis   sehingga   terbentuk   kavitas   (lubang)   yang   bila didiamkan  akan  menembus  email  serta  dentin  dan  dapat  mengenai bangian pulpa (Dorland, 2010).Karies gigi merupakan proses kerusakan gigi yang dimulai dari enamel terus ke dentin. Proses tersebut terjadi karena sejumlah faktor (multiple factors) di dalam rongga mulut yang berinteraksi satu dengan yang lain. Faktor-faktor  tersebut  meliputi  faktor  gigi,  mikroorganisme,  substrat dan waktu (Chemiawan, 2004).
Karies gigi adalah kerusakan jaringan keras gigi yang disebabkan oleh asam yang ada dalam karbohidrat melalui perantara mikroorganisme yang ada dalam saliva. (Irma, Intan, 2013: 18).
Karies gigi pada anak umumnya terjadi pada saat mereka masih memiliki gigi susu. Hal tersebut terjadi karena adanya plak yang menumpuk dari sisa makanan pada gigi. Proses lepasnya gigi susu dan berganti dengan gigi tetap biasanya terjadi sejak anak usia sekolah dasar berusia 6 sampai 8 tahun.  Pada usia 12 tahun semua gigi primer telah tanggal dan mayoritas gigi permanen telah tumbuh.
Adapun perlu diketahui jenis-jenis karies berdasarkan stadium karies:
·         Karies Superfisialis

Karies baru mengenai email saja, sedang dentin belum terkena.
·         Karies Media
Karies sudah mengenai dentin tapi belum mengenai setengah dentin
·         Karies Profunda
Karies sudah mengenai setengah dentin dan kadang-kadang sudah mengenai pulpa.

C.    Etiologi
Ada empat kriteria utama yang diperlukan untuk pembentukan karies: permukaan gigi (email atau dentin), bakteri penyebab karies, substrat atau makanan (seperti sukrosa), dan waktu. Proses karies tidak memiliki hasil yang tak terelakkan, dan setiap individu berbeda terhadap kerentanan tergantung pada bentuk gigi, kebiasaan kebersihan mulut, dan kapasitas produksi saliva mereka. (Hongini, Aditiawarman, 2012: 40).
Faktor Penyebab Terjadinya Karies:
1.      Host (Gigi)
Gigi sebagai tuan rumah untuk hidupnya mikroorganisme yang ada dalam mulut.  Sembilan puluh enam persen dari enamel gigi terdiri dari mineral, mineral ini terutama hidroksiapit, akan menjadi larut bila terkena lingkungan asam. Pada gigi produksi saliva memainkan peranan penting terhadap kemungkinan terjadinya karies gigi. Kuman akan menempel pada permukaan gigi dan bagian yang tidak dapat dibersihkan dengan air liur. Jika gigi kesulitan dibersihkan oleh air liur maka bakteri akan diubah menjadi asam yang dapat membentuk lubang kecil pada permukaan gigi.
2.      Bakteri
Mulut mengandung berbagai bakteri mulut, tetapi hanya beberapa spesies tertentu dari bakteri yang diyakini menyebabkan gigi karies: Streptococcus Mutans dan Lactobacillus diantara mereka. Lactobacillus Acidopilus, Actynomices Piscoccus, Nocardia spp, dan Streptococcus Mutans yang paling dekat hubungannya dengan karies. Bakteri akan memanfaatkan makanan terutama yang mengandung tinggi gula untuk energi dan menghasilkan asam.
3.      Substrat atau makanan
Dalam kehidupan sehari-hari kita makan-makanan yang bermacam-macam. Makanan seperti nasi, sayuran, kacang-kacangan. Selain itu juga jenis makanan yang lengket, lunak, dan mudah terselip di gigi dan sisa makanan yang tertinggal pada permukaan gigi bila tidak segera dibersihkan maka akan menimbulkan bakteri sehingga merusak gigi. Frekuensi makan lebih dari tiga kali sehari, seperti 20 menit 1 kali makan makanan manis sehingga kerusakan gigi akan lebih cepat.  (Irma, Intan, 2013:19).
4.      Waktu
Proses karies dapat mulai dalam beberapa hari gigi tersebut meletus ke dalam mulut jika diet tersebut cukup kaya karbohidrat yang cocok. Adanya kemampuan saliva untuk mendepositkan kembali mineral selama berlangsungnya proses karies, menandakan bahwa proses karies tersebut terdiri atas periode perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Oleh karena itu, bila saliva ada didalam lingkungan gigi, maka karies tidak menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan dalam bulan atau tahun. (Hongini, Aditiawarman, 2012: 42).

D.    Epidemiologi
Masalah karies  gigimasih  mendapat  perhatian  karena  sampai  sekarang penyakit tersebut masih  menduduki urutan tertinggi dalam masalah penyakit gigi dan mulut, yaitu penyakit tertinggi keenam yang dikeluhkan masyarakat Indonesia dan  menempati  urutan  keempat  penyakit  termahal  dalam  pengobatan  (Direktorat Kesehatan Gigi Departemen Kesehatan RI,1994)
Berdasarkan  hasil  riset  kesehatan  dasar (Riskesdas)  Indonesia  tahun  2007 didapatkan peningkatan jumlah kerusakan  gigi seiring dengan bertambahnya usia yaitu pada kelompok usia 35-44 tahun DMF-T rata-rata 4,46 sedangkan kelompok usia   >65   tahun   sebesar   18,33.   Keadaan   tersebut   dapat   disebabkan   karena kebersihan mulut  yang buruk. Hal ini dapat dilihat dari penduduk kelompok usia 55-64 tahun  yang menyikat gigi dengan benar (sesudah makan pagi dan  sebelum tidur malam) 5,4 % sedangkan kelompok usia >65tahun hanya 3,5%.
Berdasarkan  teori  Blum,  status  kesehatan  gigi  dan  mulut  seseorang  atau masyarakat  dipengaruhi  oleh  empat  faktor  penting  yaitu  keturunan,  lingkungan (fisik  maupun  social  budaya),  perilaku,  dan  pelayanan  kesehatan.Dari  keempat faktor  tersebut,  perilaku  memegang  peranan  yang  penting  dalam  mempengaruhi status  kesehatan  gigi  dan  mulut.Di  samping  mempengaruhi  kesehatan  gigi  dan mulut secara langsung, perilaku juga dapat mempengaruhi faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Perilaku menurut Lewin merupakan fungsi hubungan antara individu dan lingkungannya(Boedihardjo,1985 ;Herijuliantidkk.,2001).
E.     Proses Pembentukan Karies Gigi
Mulut merupakan tempat berkembangnya bakteri. Bakteri akan mengubah gula dan karbohidrat yang dimakan menjadi asam. Bakteri ini ada yang membentuk suatu lapisan lunak dan lengket yang disebut sebagai plak yang menempel pada gigi. Plak ini biasanya sangat mudah menempel pada permukaan kunyah gigi, sela-sela gigi, keretakan pada permukaan gigi, dan batasan antara gigi dan gusi. Proses hilangnya mineral dari struktur gigi dinamakan demineralisasi, sedangkan bertambahnya mineral dari struktur gigi dinamakan remineralisasi. Kerusakan gigi terjadi apabila demineralisasi lebih besar dari pada proses remineralisasi.
Asam yang merusak dalam bentuk plak menyerang mineral pada permukaan luar email gigi. Erosi yang ditimbulkan plak akan menciptakan lubang kecil pada permukaan email yang awalnya tidak terlihat. Bila email berhasil ditembus, maka dentin yang lunak dibawahnya dapat terkena. Bila bakteri sampai ke pulpa yang sensitif maka terjadi peradangan pulpa. Pembuluh darah dalam pulpa akan membengkak, sehingga timbul rasa nyeri. (Ramadhan, 2010: 56)

F.     Tanda dan Gejala Karies Gigi
Tanda awal dari lesi karies adalah bercak putih pada permukaan gigi, ini menunjukkan area demineralisasi enamel, dan dapat berubah menjadi cokelat tapi akhirnya akan berubah menjadi sebuah kavitasi (rongga). Sebuah lesi yang muncul cokelat dan mengkilat menunjukkan karies gigi pernah hadir tapi proses demineralisasi telah berhenti, meninggalkan noda. Sebuah bercak cokelat yang kusam dalam penampilan mungkin tanda karies aktif. Setelah pembusukan melewati email, dentin, yang memiliki bagian-bagian ke saraf gigi, dapat menyebabkan sakit gigi serta linu pada gigi yang berlubang apabila gigi tersebut terkena ransangan dingin, panas, makanan asin dan manis. Rasa sakit dan linu akan menghilang sekitar 1 sampai 2 detik setelah ransangan dihilangkan. Gigi karies juga dapat menyebabkan bau mulut. (Hongini, Aditiawarman, 2012: 39).
G.    Pencegahan Karies
Pengenalan karies pada tahap dini sangat diperlukan sehingga akan didapatkan hasil yang maksimal dari tindakan preventif dan restorasi. Pada saat ini, sebagian besar anak–anak usia 5 tahun masih banyak yang belum melakukan pemeriksaan pertamanya ke dokter gigi. Orang tua seharusnya mendorong dan membawa anak mereka untuk chek up kesehatan gigi sesegera mungkin setelah anak memiliki gigi, yaitu biasanya pada usia 6 bulan.
Usaha – usaha pencegahan karies gigi:
1)      Penyuluhan diet
Diet merupakan salah satu faktor yang penting dalam melakukan pencegahan karies. Untuk anak–anak dengan masalah karies yang berat, dokter gigi harus mengevaluasi semua faktor etiologi termasuk pola makan dan diet. (Achmad, 2012: 19).
2)      Pemberian fluor
Pemberian fluor merupakan hal yang efektif dalam mencegah karies karena kombinasi dalam penggunaannya untuk tujuan yang sama. Tujuan utama pemberian fluor adalah untuk meningkatkan remineralisasi email gigi dan meningkatkan resistensi email terhadap demineralisasi serta menurunkan produksi asam di dalam plak. Tambahan pemberian flour dapat berupa tetes atau tablet. Obat ini biasanya dikumurkan dalam mulut sekitar 30 detik kemudian dibuang.
3)      Pemeliharaan oral hygiene
Pemeliharaan oral hygiene sangat penting dilakukan untuk mencegah terjadinya karies gigi. Tujuan dari kebersihan mulut adalah untuk meminimalkan penyakit etiologi di mulut. (Achmad, 2010: 20).
4)      Penyuluhan kesehatan gigi di sekolah
Penyuluhan tentang kesehatan gigi ini sering ditujukan pada anak–anak diharapkan mampu menjaga dirinya untuk mencegah terjadinya penyakit gigi dan mulut setelah dilaksankan penyuluhan di sekolah, serta mampu mengambil tindakan yang tepat apabila ada gejala–gejala pada kelainan pada gigi dan mulutnya. Peningkatan pemahaman kesehatan gigi dan mulut siswa dapat diwujudkan dengan mendirikan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). Kegiatan dari UKGS meliputi pendidikan, pencegahan, dan pengobatan akan tetapi dapat juga menghadirkan seorang dokter gigi yang melakukan kunjungan rutin ke sekolah tersebut bila diperlukan. (Achmad, 2010:20).

H.    Perawatan Karies
Perawatan gigi anak memerlukan suatu perencanaan yang baik dan sehingga anak mendapatkan perawatan yang seoptimal mungkin. Pada dasarnya perawatan gigi anak harus tuntas artinya harus selesai tanpa menimbulkan sakit lagi (Achmad, 2013:14).
1)        Perawatan awal adalah perawatan pada masing-masing gigi yang mengawali perawatan selanjutnya. Perawatan awal antara lain adalah pembersihan gigi, pemberian obat sistemik (misalnya antibiotik), perawatan endodontik, dan pencabutan. Antibiotik yang diberikan misalnya obat yang tidak berpengaruh terhadap perubahan warna gigi antara lain preparat eritromisin, amoxillin, dan ampicillin.
2)        Perawatan akhir seperti pembuatan gigi palsu, pencabutan dan penambalan gigi.
I.       Pengobatan Karies
Tujuan pengobatan adalah untuk melestarikan struktur gigi dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada gigi. Secara umum, pengobatan dini kurang menyakitkan dan lebih murah dibandingkan pengobatan kerusakan yang luas. Anastesia, nitroksida atau medicantiosa resep lain mungkin diperlukan dalam beberapa kasus untuk menghilangkan rasa sakit selama atau setelah pengobatan atau untuk mengurangi kecemasan selama pengobatan. Sebuah handpiece gigi (bor) digunakan untuk menghapus sebagaian besar bahan yang membusuk dari gigi.  (Hongini Aditiawarman, 2012: 53).
J.      Kebiasaan Menyikat Gigi
a.       Definisi Menyikat Gigi
Menyikat gigi adalah membersihkan gigi dari partikel makanan, plak, bakteri, dan mengurangi ketidaknyamanan dari bau dan rasa yang tidak nyaman. Kebiasaan menyikat gigi merupakan suatu kegiatan atau rutinitas dalam hal membersihkan gigi dari sisa–sisa makanan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan mulut (Tamrin, Afrida, Jamaluddin, 2014: 17).
Dengan melihat efisiensi waktu dan saat makannya serta hasilnya, frekuensi sikat gigi  yang baik bagi anak adalah dua kali sehari. Teknik menyikat gigi pada anak harus merupakan teknik menyikat sederhana dan mudah dimengerti.
Anak usia sekolah biasanya kurang kesadaran untuk memerhatikan perilaku kebersihan mulut sehingga kesehatan gigi anak berkurang. Peningkatan kebersihan mulut dilakukan dengan menggunakan sikat gigi yang dikombinasikan dengan pemeriksaan gigi secara teratur. Usia paling rentan terjadi karies gigi adalah usia 4-8 tahun pada gigi primer dan 12-18 tahun pada gigi tetap.
b.      Cara menyikat gigi
Cara menyikat gigi yang benar 4 tepat 5 sempurna. Dimana saat ini banyak yang bertanya bagaimanakah cara menyikat atau membersihkan gigi yang tepat dan efektif?
Kita hanya perlu mengingat 4 tepat saja yaitu tepat alat, tepat cara, tepat waktu, dan tepat target. Sementara kebanyakan orang maunya yang cepat – cepat saja yaitu cepat mulai dan cepat selesai yang akhirnya gigi juga jadi cepat berlubang. (Erwana, 2013:19).
c.       Tepat alat
Tepat alat disini maksudnya adalah harus benar dalam memilih alat yang digunakan untuk membersihkan gigi, yaitu sikat gigi. Berikut adalah kriteria sikat gigi yang baik ialah gagang sikat harus lurus supaya memudahkan mengontrol gerakan penyikatan. Kepala sikat tidak lebar, bulu sikat halus dan membuat supaya tidak melukai jaringan lunak lain seperti pipi, gusi, saat menyikat gigi bagian belakang. Sikat gigi hendaknya diganti sekurang-kurangnya setiap tiga bulan sekali.
d.      Tepat cara
Berikut adalah gerakan menyikat gigi yang tepat :
·         Gerakan untuk bagian luar gigi depan yaitu ke atas dan ke bawah jangan digosok dengan gerakan menyamping bolak-balik karena bisa menyebabkan gusi menjadi “iritasi”.
·         Bagian luar gigi belakang jangan digosok dengan gerakan naik turun, tetapi dengan gerakan maju–mundur atau memutar. Gerakan naik turun tidak efektif membersihkan gigi belakang bagian luar.
·         Untuk bagian dalam dari gigi depan dan belakang harus disikat dengan gerakan menarik.
e.       Tepat waktu
Menyikat gigi pagi hari dilakukan setelah sarapan bukan saat mandi pagi, kecuali jika mandi paginya setelah sarapan. Sedangkan waktu menyikat gigi pada malam hari adalah sebelum tidur, bukan setelah makan malam. Namun terdapat pula waktu menyikat gigi sebaiknya lebih dari 2 kali sehari yaitu pada waktu selesai makan dan menjelang tidur. Menyikat gigi setidaknya 2-3 menit. Pada kesempatan dimana kita tidak mungkin melakukannya segera setelah makan, dianjurkan untuk berkumur dengan air putih.
f.        Tepat target
Meliputi tepat membersihkan daerah yang perlu dibersihkan. Gigi bukan hanya bagian depan dan bagian luar saja namun, gigi juga ada di bagian belakang dan dalam. Bagian ini biasanya tidak bahkan lupa untuk dibersihkan, sehingga memudahkan terjadinya plak.
g.      5 Sempurna
Setelah 4 tepat, saatnya untuk 5 Sempurna dengan menggunakan alat bantu. Daerah gigi dan mulut yang perlu dibersihkan adalah gigi, pipi, lidah, dan langit–langit. Jadi selain sikat gigi, kita perlu menggunakan alat bantu. Pilihan yang bisa digunakan sebagai alat bantu dalam membersihkan gigi adalah pembersih lidah, obat kumur, dan benang gigi.
Menurut Dingwal (2013: 52-54) peralatan yang dapat digunakan dalam pembersihan gigi adalah sebagai berikut:
·         Pasta gigi
Pasta gigi adalah produk pembersih mulut yang paling banyak digunakan meskipun tidak signifikan dalam menghilangan plak. Jenis pasta gigi tertentu bermanfaat dalam pencegahan kerusakan. Pasta gigi anak dimaksudkan untuk membersihkan dan menghaluskan permukaan gigi geligi dan dapat memberikan rasa serta aroma yang nyaman dalam rongga mulut. Pasta gigi untuk anak diproduksi dengan kemasan yang bergambar dan berwarna. (Sariningsih, 2012: 206).
Dosis toksik fluorida untuk anak-anak adalah 5 mg/kg berat badan. Pasta gigi reguler mengandung ion fluorida sampai 1 mg per gram pasta sehingga pasta seukuran kepala sikat penuh mengandung sekitar 1,5 mg ion fluorida. (Tarigan, 2013:82).
·         Penggunaan obat kumur
Membersihkan mulut sebagai bagian dari hygiene dasar memerlukan larutan yang efektif dan lembut bagi pasien. Berkumur dengan menggunakan kadar flour. Berkumur flour diindikasikan untuk anak yang berumur di atas enam tahun dan orang dewasa yang mudahterserang karies. Kumur-kumur antiseptik yang lebih murah dan cukup efektif untuk anak adalah air garam hangat.
·         Benang gigi
Penggunaan benang gigi merupakan metode pilihan untuk membersihkan permukaan celah diantara dua gigi. Benang gigi tersebut terbuat dari bundel nilon tipis atau plastik atau pita sutra yang digunakan untuk menghilangkan makanan dan plak gigi dari gigi. Benang ini lembut disisipkan diantara gigi dan digoreskan disepanjang sisi gigi, terutama dekat dengan gusi.
Peranan TGM (Terapis Gigi dan Mulut)  dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas
Tugas pokok :
·         Menyiapkan alat/bahan/obat/sarana lain untuk pelayanan di unit layanan gigi
·         Melakukan pemeriksaan terhadap pasien di unit layanan gigi
·         Mencatat data pasien di buku registrasi unit layanan gigi
·         Menjaga, memelihara, dan bertanggung jawab atas sarana dan prasarana di   unitnya
·         Melakukan pencatatan dan pelaporan di unit layanan gigi secara berkala setiap bulan
·         Melaksanakan tugas dinas lainya yang diberikan oleh atasan
Tugas Tambahan :
·         Memprogram dan melaksanakan kegiatan UKGS
·         Secara berkala setahun dua kali, melakukan pemeriksaan gigi dan memberikan penyuluhan
·         Dalam dunia kesehatan terdapat beberapa profesi yang berperan untuk memberikan pelayanan kesehatan, seperti dokter, dokter gigi, perawat, perawat gigi, apoteker, ahli gizi, dan lain sebagainya.
Masyarakat khususnya masyarakat awam masih berpikir bahwa profesi  kesehatan mempunyai peran dan fungsi yang sama saat memberikan pelayanan kesehatan. Sebenarnya setiap profesi mempunyai peran dan fungsi masing-masing dalam pelayanan kesehatan dan telah diatur batasan peran dalam pelayanan kesehatan.  Pembatasan peran ini dikarenakan setiap profesi kesehatan memiliki pengetahuan, keahlian, dan keterampilan yang berbeda-beda. Peran dan fungsi masing-masing profesi kesehatan professional sangat memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan







BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    KESIMPULAN
Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya dan didukung oleh gusi yang sehat, yaitu gusi yang kencang dan bewarna merah muda. Untuk mencapai kesehatan gigi dan mulut yang optimal, maka harus dilakukan perawatan secara berkala, sehingga didapatkan kondisi gigi dan jaringan rongga mulut yang sehat. Hal tersebut dapat dicapai dengan memeriksakan kesehatan gigi dan mulut ke dokter gigi setiap enam bulan sekali dan bukan hanya apabila terdapat keluhan saja.
B.     SARAN
Dengan perawatan kesehatan diri yang khususnya rongga mulut, seperti sikat gigi secara teratur. Maka resiko terjadinya karies gigi dapat dikuranggi lapisan enamel gigi yang tipis mudah mengalami kerusakan terutama pada gigimolar sebelum terjadinya karies pada gigi periksalah gigi anda ke dokter gigi enam bulan sekali.